Justru Karena Tak Pernah Berbuat Salah Jenderal Ini Dipecat

Share posting

Artikel Eksklusif

Oleh : H Derajat


Ilustras-moslemlifestyle.com

Bismillahirrohmanirrohim

Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala ali Sayyidina Muhammad.

Membaca judul kisah di atas aku teringat pesan guruku tercinta :

Ing jagadíng sêsrawungan mono nyirík marang sêsipatan kang gumêdhê lan wêwatakan kang tansah ngêgúngakê dhiri.

Sipat lan wêwatakan mau adhakanê banjúr nuwúhakê råså ora lilå yèn nyipati ånå liyan síng luwíh katimbang dhèwèkê.

Mulå saibå bêcikê samångså såpå kang rumangsa pintêr dhêwê, sugíh dhêwê, lan kuwåså dhêwê iku gêlêma nglaras dhiri lan nglêrêmakê cíptanê kang wêning, yèn sêjatinê isíh ånå manèh kang Måhå Pintêr, Måhå Sugih, lan Måhå Luhúr.

Klawan mangkono råså pangråså dumèh lan takabúr kang dadi sandhungan pasrawungan biså sumingkír.

(Dalam dunia pergaulan seyogyanya menghindari sifat sombong dan watak yang selalu membesar-besarkan diri sendiri. Sifat dan watak tersebut biasanya menimbulkan perasaan tidak rela jika menemukan orang lain yang lebih dari dirinya. Maka alangkah baiknya bilamana siapapun yang merasa paling pinter, paling kaya, dan paling berkuasa hendaklah mengendapkan hati, mengheningkan cipta, bahwa sebenarnya masih ada lagi yang Maha Pandai, Yang Maha Kaya, Yang Maha Tinggi. Dengan begitu sikap  mentang-mentang  dan takabur yang menjadi batu sandungan dalam pergaulan akan menyingkir).

Kisah ini saya sajikan untuk menjawab pertanyaan sikap saya terhadap pemimpin-pemimpin, komandan-komandan yang tiba-tiba dipecat padahal yang bersangkutan merasa tidak bersalah.

Sahabatku, di hari yang indah ini, sambil berkumpul dengan keluargamu, kupersembahkan sebuah kisah seorang Panglima Perang handal yang tak pernah terkalahkan, seorang jenderal yang disegani oleh kawan maupun lawan, sangat dicintai Prajuritnya, dan yang dipecat bukan karena kesalahannya. Anda tak akan bisa menerka apa penyebabnya.

Kisah Khalid bin Walid, Panglima Perang yang Dipecat Karena Tak Pernah Berbuat Salah.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang.

Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat Islam. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, ”Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus.” Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai “Pedang Allah yang Terhunus”.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang.

Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. Itulah Khalid bin Walid. Beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, ”Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap…!”

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan….? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khaththab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. Sesampai di depan Umar, beliau memberikan salam,

”Assalamualaikum ya Amirul Mukminin…! Langsung saja…! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya dipecat…?”

”Walaikumsalam warahmatullah…! Betul Khalid….”, jawab Khalifah.

“Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa…?”

”Kamu tidak punya kesalahan.”

”Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat…? Apa saya tak mampu menjadi panglima…?”

”Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik…”

”Lalu kenapa saya dipecat…? ” tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khaththab menjawab, ”Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong”.

”Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa…!”

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, ”Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku…!”

Bayangkan, mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun.

“Ya Rabb, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai  dan masukkanlah aku dengan rahmat Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”.

Mari kita bantu share link berikut agar pelajaran Akhlak Tasawuf terus berkembang di saat hati kita gersang :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Share posting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *