SDIT Alam Garut Siap Laksanakan Kurikulum Menuju Pendidikan Yang Memerdekakan

Share posting

Oleh : Hidir Hidayat

Maharani Purnamasari, S.E, selaku Kepala Sekolah dari SDIT Alam Garut (SAGa). (Foto: Hidir Hidayat – grahabignews.com)

Garut – Kurikulum Pendidikan yang memerdekakan dan menuju profil pelajar pancasila, menjadi tujuan dari Sekolah Penggerak. Banyak sekolah yang mendambakan menjadi Sekolah Penggerak. Menjadi pelopor sekolah penggerak tentunya menjadi barometer akan kualitas, terutama pemimpin dari sekolah tersebut dan layak diapresiasi.

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Alam Garut (SAGa) yang beralamat di Jl. Gordah no. 21 Rt. 03 Rw. 08 komplek Mesjid Al-Khoir Kelurahan Jatawaras Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut menjadi contoh. Sekolah yang memiliki moto Setiap tempat adalah sekolah dan Setiap orang adalah guru tersebut layak diapresiasi.

Maharani Purnamasari, S.E, selaku Kepala Sekolah dari SDIT Alam Garut (SAGa) mengungkapkan Ada kebanggaan dan harapan baru jadi pelopor sekolah penggerak. “Dengan menjadi sekolah penggerak, kita punya peluang untuk berbuat lebih banyak, dari diklat kemarin dengan menjadi profil pelajar pancasila tentunya,” katanya, Rabu (09/06).

Kepala SDIT SAGa menunjukan Hasil Karya Siswanya Berupa Daur Ulang Botol. (Foto: Hidir Hidayat – grahabignews.com)

Disamping kurikulum lebih sederhana, dalam kurikulum sekolah penggerak juga, kata dia, ada fase pembagian dimana setiap anak bisa lebih berekplorasi lebih dalam. “Waktu anak dalam capaian satu pembelajarannya lebih lama dalam satu fase. Dimana terdiri fase A kelas 1 dan 2, fase B yaitu kelas 3 dan 4, dan fase c yaitu kelas 5 dan 6” sebutnya.

Program sekolah penggerak yaitu lebih kepada digitalisasi pembelajaran. “Proses panjang selama 3 tahun pendampingan, kalau dimasa covid-19, sekolahnya menggunakan sistem ini daring sama homevisit, “ujarnya.

“Terkait dengan pilot project sekolah penggerak khusus bagi SAGa dan sekolah yang lain, yaitu dalam pembuatan kurikulum operasional sekolah, yaitu menuju kurikulum pendidikan yang memerdekakan, sesuai target dan menuju profil pelajar pancasila,” ujarnya.

Kurikulum sekolah yang memerdekakan terangnya, bisa memberikan banyak ruang ekspresi bagi anak didiknya, bukan hal yang tidak mungkin, ketika prosesnya berjalan bisa lebih menyenangkan kedepannya, hasil menjadi tolak ukur, namun proses yang menentukan. Assesment (penilaian) dan pola asuh yang baik, juga mempengaruhi disamping penilaian diagnostik, secara kognitif dan formatif.

Hasil Karya Siswa SDIT SAGa dari Bahan Tutup Botol. (Foto: Hidir Hidayat – grahabignews.com)

“Assesment formatif yaitu selama proses belajar, ketika anak menghadapi masalah baru kepada ujian akhir, kita jangan fokus pada akhir atau sumatif namun proses yang diagnostik, dan kognitif juga harus dihargai,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi juga terkait program Pemkab Garut, terutama dalam pelibatan sekolah swasta yang ambil bagian dalam program sekolah penggerak. “Saya berikan apresiasi juga kepada Pemkab Garut terkait pelibatan sekolah swasta ambil bagian di program sekolah penggerak dan berharap juga bantuan yang lain dari Pemkab untuk sekolahnya,” pungkasnya.

Bingung Ingin Kuliah yang Berkualitas? Klik aja Link di bawah ini !!!

http://pmb.fteknikuniga.ac.id


Share posting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *