Lustrasi-newsmaker.tribunnews.com
orang sufi berpendapat bahwa hasil ibadahnya akan tercermin pada kasih sayangnya kepada seluruh makhluk Allah.
Artikel Eksklusif
Oleh : H Derajat
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.
Berikut adalah sebuah kisah unik dari seorang Syeikh Tarekat Sufi untuk dijadikan tauladan bagaimana seharusnya seorang pengikut ajaran tarekat bertindak yaitu mendahulukan kepentingan makhluk Allah ketimbang mengejar pahala dari ibadahnya.
Bagi kaum sufi, beribadah bukanlah mengejar pahala tetapi lebih mengejar agar dirinya mampu berbuat baik kepada sesama makhluk dari buah hasil peribadatannya. Insya Allah.
Ibrahim al-Nashrabazi, nama lengkapnya Ibrahim bin Muhammad bin Mahmuwaih, memiliki kuniyah Abu al-Qasim. Ibrahim al-Nashrabazi merupakan ulama/syaikh di wilayah Khurasan yang ajaran tarekatnya satu sanad silsilah dengan kami di Pasulukan Loka Gandasasmita.
Beliau lahir dan besar di kota Naisabur tepatnya di perkampungan Nashrabaz. Al-Sulami dalam Thabaqat al-Shufiyah menginformasikan bahwa Ibrahim al-Nashrabazi merupakan ulama rujukan dalam bidang sejarah, dan biografi. Ibrahim al-Nashrabazi pernah berguru kepada Abu Bakar al-Syibli dan Abu Muhammad al-Murtaisy.
Di tahun 336 Hijriyah, Ibrahim al-Nashrabazi berangkat ke Mekkah dan memutuskan bermukim di sana hingga akhir hayatnya di tahun 367 Hijriyah. Catatan Fariduddin al-Atthar dalam Tazkirah al-Auliya menginformasikan bahwa Ibrahim al-Nashrabazi pernah berhaji sebanyak empat puluh kali.
Dikisahkan, suatu hari Ibrahim al-Nashrabazi melihat seekor anjing yang lemas dalam kondisi kelaparan berada di Mekah al-Mukarramah. Melihat kondisi anjing yang begitu lemah, Ibrahim al-Nashrabazi tak tega dan ingin sekali memberi makan anjing itu, namun apalah daya, saat Ibrahim al-Nashrabazi tidak memiliki sepeser pun uang untuk membelikan anjing itu makan.
Ibrahim al-Nashrabazi lalu memanggil orang-orang yang kebetulan ada di sekitarnya, ia pun lalu berkata, “Siapa yang mau membeli pahala empat puluh ibadah hajiku dengan sepotong roti?”
Tiba-tiba datang seorang laki-laki, dan memberi Ibrahim al-Nashrabazi sepotong roti. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu hanya menyaksikan Ibrahim al-Nashrabazi. Ibrahim al-Nashrabazi lalu menerima roti itu dan lantas memberi makan anjing yang sedari tadi lemas kelaparan.
Seusai kejadian itu tiba-tiba ada seorang laki-laki dari dalam masjid yang menghampiri Ibrahim al-Nashrabazi.
“Apa yang telah kau lakukan? Apa kau bodoh menjual empat puluh hajimu dengan sepotong roti?”, ucap laki-laki itu.
Laki-laki itu pun lalu memukul Ibrahim al-Nashrabazi. Ibrahim al-Nashrabazi tersungkur dan terdiam, ia lalu bangkit dan meninggalkan laki-laki yang memukulnya itu dengan menutup wajahnya memakai baju yang ia kenakan.
Laki-laki yang memukul Ibrahim al-Nashrabazi, menurut informasi dari Fariduddin al-Atthar merupakan ahli ibadah yang ada di Masjidil Haram.
Kendati mendapat pukulan dari laki-laki ahli ibadah itu, Ibrahim al-Nashrabazi tidak membalasnya dengan pukulan yang sama, ia memilih untuk pergi menghindar dari laki-laki itu.
Sumber :
Sesepuh kami mengatakan dalam bahasa Jawa :
Ora ånå wóng kang ingaranan uríp, kêjabanê kang mikír sartå trêsnå marang wóng kang ringkíh lan nandhang påpå cintråkå. Biså mèlu ngrasakakê kasusahanê sartå lårå lapanê wóng liyå. Kanthi pangråså kang mangkono mau atêgês biså nggadhúh kêkuwatan kang tanpå watês, pêrlu kanggo mitulungi sapådhå-pådhå kang kahananê luwíh nrênyúhakê katimbang dhiri pribadinê. “Pakarti mono darbèk kita dhêwê, nanging wóhê pakarti mau dadi kagunganê Kang Gawê Urip”, mangkono sabdanê sawijinê Pujånggå kalokå.
“Tiada orang disebut hidup, kecuali yang peduli serta belas kasih kepada sesama yang tak berdaya dan menderita. Dapat merasakan penderitaan serta kesengsaraan orang lain. Dengan dimilikinya rasa seperti itu, berarti mampu memelihara kekuatan yang tiada batasnya, diperlukan untuk menolong sesama yang keadaannya lebih mengenaskan ketimbang diri pribadinya. Perbuatan adalah milik kita sendiri, namun buah dari perbuatan kita menjadi milik Tuhan. Begitulah sabdanya salah satu Pujangga terkenal”.
Oleh : Wishnoe Ida Noor Grahabignews.com.Garut – Rasa haru dan bahagia menyelimuti semua jajaran kepengurusan… Read More
Oleh ; Wishnoe Ida Noor Grahabignews.com.Garut – “Kalau LCC itu lebih ke penguatan literasi dan… Read More
Oleh : Wishnoe Ida Noor Grahabignews.com.Garut – Tuntas sudah acara yang dinantikan dalam penutupan lomba… Read More
Oleh : Wishnoe Ida Noor Grahabignews.com.Garut – Pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Jenjang SD Tingkat… Read More
Oleh : Rudy Herdiana Grahabignes.com.Garut – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, memimpin Rapat Koordinasi Gugus… Read More
Oleh ; Nurdiansyah Fadillah, S.Pd Grahabignews.com.Garut – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menegaskan bahwa orientasi… Read More