Ketika Daun Dilihat oleh 5 Orang Dengan Jenis Kegilaan Yang Berbeda

Share posting

Artikel Eksklusif

Oleh : H. Derajat

Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita

ilustrasi-pixabay

Saudara-saudaraku yang sangat ku kasihi, Hentikanlah setiap perbedaan pandangan di antara kalian. Janganlah perbedaan pandangan itu, dijadikan alat yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan diantara kita. Berikut ingin rasanya, saya sampaikan sebuah contoh dimana daun yang jatuh dari pohonnyapun dipandang berbeda, oleh orang-orang yang dipenuhi pikirannya dengan kegilaannya masing-masing.

Terdapat berbagai jenis kegilaan di dunia ini. Kita akan membahas lima jenis kegilaan yang paling umum.

Gila yang berasal dari akal pikiran

Gila akan wanita,

Gila akan uang,

Gila akan mabuk-mabukan,

Gila akan kebijaksanaan.

Pada sebuah persimpangan jalan di dekat taman, berdiri sebuah pohon yang teduh. Lima orang dengan lima jenis kegilaan duduk bersama di bawah pohon tersebut. Mereka berbicara dengan diri mereka sendiri. Bagi orang yang berlalu-lalang, lima orang ini terlihat sama, tetapi terdapat alasan yang berbeda atas kegilaan mereka.

Manusia yang sakit jiwa mengambil semua serpihan kertas dan lembaran daun kering yang ada di tanah dan meletakkannya di sekitar tangannya sembari mengoceh, “Kau pergi ke sini, kau pergi ke sana.”

Dia yang terobsesi oleh wanita mengambil semua serpihan daun, dan mengira bahwa, daun itu adalah surat cinta. Dia berkomat-kamit, “Kekasihku menulis ini, kekasihku menulis itu. Kekasihku berkata, ‘Aku akan datang kepadamu!”.

Dia yang terobsesi oleh uang mengambil semua daun-daun yang berserakan itu, melihatnya, membolak-baliknya, dan mengomel kepada dirinya sendiri, “Bank ini, bank itu. Rekening ini, rekening itu. Simpananku”.

Dia yang gila karena mabuk, berdiri dan berjalan sempoyongan di jalan, menabrak orang lain dan benda-benda yang ada di sekitarnya. Akhirnya, dia terjatuh tak sadarkan diri di jalan, dan maling merampok pakaiannya. Ketika dia sadar kembali dia begitu malu, sehingga dia kembali ke rumah, bertengkar dengan istrinya, dan menyalahkan keluarganya atas kesalahannya.

Tetapi dia yang terobsesi oleh kebijaksanaan mengambil sebuah daun kering yang telah mati dan tersenyum dengan sedih. “Sungguh indah, ketika engkau masih bersatu dengan batangmu. Pada awalnya engkau adalah sebuah daun indah yang berwarna hijau yang menyejukkan orang lain. Kemudian engkau berubah menjadi kuning, dan saat ini warnamu menjadi sama dengan tanah. Engkau adalah daun kering yang akan kembali ke tanah sebagai pupuk. Setiap orang dan segala sesuatu akan mendapatkan takdir yang sama. Setiap orang dan segala sesuatu menjadi makanan bagi tanah”. Dia tertawa dan menangis, tetapi bukan dari dalam dirinya.

Manusia yang terobsesi dengan kebijaksanaan tertawa, karena penjelasannya sendiri. Dia berkata, “Sungguh inilah kehidupan! Oh Tuhan, aku mencari-Mu dan menjadi gila. Engkaulah satu-satunya dokter yang dapat menyembuhkan kegilaanku. Jika Engkau tidak datang, aku akan mati seperti daun ini. Engkaulah Tuhan yang menciptakan, melindungi, dan merawatku. Engkaulah Tuhan yang memahami dan mengerti akan diriku. Berikanlah aku obat rahmat, cinta dan kebijaksanaan-Mu dan penuhilah kebutuhan-kebutuhanku. Aku adalah budak-Mu di dunia ini”. Hatinya terbuka, dan dia berserah diri kepada Tuhan.

Empat orang lainnya tidak menyadari hal ini. Mereka berbicara akan apa yang ada di dalam diri mereka. Tetapi bagi dunia, kelima orang ini terlihat gila.

Sahabatku, pahamilah keadaan ini. Jangan mengikuti apa yang dunia lakukan. Jika engkau melihat seseorang yang benar-benar mengerti akan dirinya, kehilangan dirinya dalam meraih kebijaksanaan, dan mati dalam Tuhan, engkau sebaiknya menghormatinya dan belajar kebijaksanaan dan kata-kata baik darinya. Hal itu akan menjadikan engkau mulia.

Saudaraku terkasih, pandanglah setiap jalan kehidupanmu, kariermu, pekerjaanmu, perdaganganmu, hubungan pergaulanmu, rumah tanggamu juga termasuk caramu berpolitik dengan selalu menyertakan Tuhan dalam memandangnya karena tanpa itu kita telah terjerumus pada tipu daya dunia.

Rasulullah s.a.w bersabda: “Barangsiapa bertekad hanya menghubungkan diri kepada Allah SWT semata, niscaya Allah menjamin segala keperluannya, dan memberi rezeki dari yang tidak pernah diduganya. Dan, barangsiapa yang bertekad menghubungkan diri kepada dunia semata, niscaya Allah menyerahkannya kepada dunia itu” (al Hadits).

 


Share posting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *