Nasehat Mursyid Kami R NG Ronggowarsito

Share posting

konsep meraih kebahagiaan dengan mengelola hati kita melalui seringnya merenung

Artikel Eksklusif

Oleh : H. Derajat

Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita

Sahabatku yang sangat aku kasihi, telah berkata Mursyid kami, guru dari orang-orang tua kami yaitu R Ng Ronggowarsito….:

Nasehat Ronggowarsito

Mari kita semua menanamkan di dalam hati kita bahwasanya :

Rejeki iku ora iså ditiru..

(Rejeki itu tidak bisa ditiru)

Senajan pådå lakumu

(Walau jalanmu sama)

Senajan pådå dodolan mu

(Walau jualanmu sama)

Senajan pådå nyambut gawemu

(Walau pekerjaanmu sama)

Kasil sing ditåmpå bakal bedå-beda

(Hasil yang diterima akan berbeda satu sama lain)

Iså bedå nèng akèhé båndhå

(Bisa lain dalam banyaknya harta)

Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati, yaiku sing jenengé bahagia

(Bisa lain dalam rasa bahagia dan ketenteraman hati)

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså

(Semua itu atas kasih dari tuhan yang maha kuasa)

Såpå temen bakal tinemu

(Barang siapa ber-sungguh2 akan menemukan)

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå

(Barang siapa berani bersusah payah akan menemukan kemuliaan)

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi

(Bukan banyaknya, melainkan berkahnya yang menjadikan cukup dan mencukupi)

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså

(Sudah digariskan oleh takdir bahwa semua yang hidup itu sudah diberi bekal oleh yang maha kuasa)

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané

(Jalan hidup dan rejeki sudah tersedia, dekat, seperti udara yang kita hirup setiap harinya)

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé, nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå

(Tetapi kadang manusia silau mata dan gelap hati, yang jauh kelihatan berkilau dan menarik hati.. Tetapi yang dekat didepannya dan menjadi tanggung jawabnya disia-siakan seperti tak ada guna)

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati

(Rejeki itu sudah disediakan oleh tuhan, tidak bakal berkurang untuk mencukupi kebutuhan manusia dari lahir sampai mati)

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet

(Tetapi kalau menuruti kemauan manusia yang tidak ada batasnya, semua dirasa kurang membuat ruwet di hati dan pikiran)

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné

(Petuah orang tua, jalanilah apa yang ada didepan mata dan jangan terlalu berharap lebih untuk yang belum ada. Kalau memang milikmu pasti akan ketemu, kalau bukan jatahmu, apalagi sampai merebut milik orang memakai càra tidak baik, itu akan membuat hidupmu merana, sengsara dan angkara murka. Semua itu akan sirna kembali ke asalnya)

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé

(Kalau saja ketenteraman itu bisa dibeli dengan hàrta, alangkah sengsaranya orang yang tidak punyà)

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng   tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI,

(Untungnya, ketenteraman bisa dimiliki oleh siapa saja yang tidak mengagungkan keduniawian, suka menolong orang lain dan mensyukuri hidupnya)

Demikian R Ngabehi Ronggowarsito memberikan nasehat untuk mencapai kebahagiaan hidup. Semoga ada manfaatnya bagi saudara-saudaraku.

Cintailah Takdirmu sendiri sebagaimana telah aku katakan pada mu wahai sahabatku yang aku kutip dari Allah De Otesini Birak Katakan Allah! Selebihnya Serahkan kepada-Nya; Ugur Kosar; 2015

 

Mencintai Takdir

 

Apapun yang terjadi, apapun yang aku alami, apapun yang dihadapkan kepadaku, aku tidak akan pernah menghiraukan apa peristiwanya. Melainkan aku kan melihat Dzat Yang Maha di balik segalanya.

Sungguh, setiap ujian yang datang dari-Nya adalah demi kebaikan hamba. Demikian pula dengan setiap kepedihan yang dialami manusia. Tidak mungkin ada keburukan yang datang dari-Nya. Ini adalah tidak mungkin. Karena Dzat Yang Maha sumber segala cinta dan kasih sayang tidak lain hanyalah akan memberikan kebaikan bagi hamba-Nya.

Kebanyakan manusia saling mengeluhkan takdir yang dihadapinya. Saling menggerutu dengan kesusahan yang dialaminya. Namun bagiku apapun yang terjadi, apapun yang aku alami, aku mencintai takdir atas diriku demi cintaku kepada Dzat yang Maha Pencipta takdir itu.

Namun kita sering menganggap setiap permasalahan sebagai kepedihan. Karena seringnya kita terlelap dalam tidur. Padahal jika saja kita mampu merenungi dengan sedikit lebih mendalam, niscaya kita akan menemukan hakikat di baliknya.

Apa yang telah dikatakan oleh Maulana Jalaluddin Rumi untuk kita? “Hidup adalah ibarat dalam alam tidur. Saat kematianlah manusia akan terbangun dari tidurnya. Karena itu, bangunlah engkau sebelum engkau dibangunkan.” Maksud dari apa yang dikatakan oleh Maulana ini adalah ‘jadilah engkau seorang wali, terangilah hidupmu, merenunglah.

Manusia hidup dalam kandungan ibunya selama sembilan bulan. Mungkinkah jika sekarang engkau mengingat kembali kehidupan dalam kandungan itu? Ini adalah tidak mungkin. Karena pikiran manusia tidak mungkin sampai untuk melakukan itu.

Demikianlah, akal manusia juga tidak mungkin bisa memahami sepenuhnya kehidupan dunia ini. Manusia hanyalah mengira, menerka saja. Manusia mengira kalau kehidupan ini adalah nyata. Padahal dunia ini adalah alam mimpi yang diciptakan oleh Allah Swt.

Semua keluh kesahmu hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang membuatmu hidup dalam kendali akalmu. Sehingga segalanya engkau pandang dengan logika. Sedangkan aku lebih cenderung jika engkau hidup dengan hatimu. Hidup menemukan ruhmu yang sejati.

Sungguh hidup dengan mengetahui diri adalah perjalanan yang penuh kesulitan. Bangun dari mimpi bukanlah pasrah pada takdir. Perhatikanlah satu hal di sini. Saya tidak sedang membahas tentang kepasrahan kepada takdir. Saya juga tidak sedang membahas tentang bagaimana mengekang diri. Melainkan saya hanyalah membahas mengenai kerelaan hati pada Dzat yang membuat takdir.

Iya, karena ‘mengetahui diri’ adalah berawal dari meninggalkan sikap ‘mengeluh’. Berawal dari memejamkan mata yang salah melihat. Janganlah lupa bahwa mata yang salah melihat adalah salah. Untuk itu berusahalah menerangkan diri sendiri daripada selalu menerangkan orang lain. Karena mencari kesalahan orang lain akan menghabiskan waktumu. Sedang upaya memahami diri akan membawamu kepada dirimu sendiri.

Apalah yang mempengaruhi pandanganmu? dia adalah akal. Sehingga pandanganmu akan menjadi kabur. Jika saja engkau bisa melewati tirai akal itu untuk melihat dengan pandangan mata hatimu, niscaya engkau akan melihat kenyataan. Jiwa yang melihat dengan cinta selalu melihat ‘hatinya’. Ini adalah langkah pertama yaitu mengingat Dzat Yang memberi napas saat menarik napas.

Hanya saja kebanyakan dari kita tanpa disadari hidup dengan sering marah kepada yang lain, dengan membawa energi negatif dari kemarahan itu, sehingga hidup dengan selalu menggerutu, hidup dengan membawa hukuman, hidup dengan meracik racun untuk kita sendiri. Padahal saat kebanyakan dari kita sibuk dengan segala hal yang di luar, betapa indahnya kejadian yang ada di dalam hati.

Takdir tidaklah ada yang benar dan salah, yang ada hanyalah baik. Sedangkan Dzat Yang menuliskan takdir itu adalah Yang Maha paling baik dari yang baik…


Share posting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *