Cerpen

Senja di Kaki Gunung Cikuray

Share posting

Cerpen Akhir Pekan  : Lilis Yuliati, S.Pd., M.Pd.

Jingga… temaram di langit Dayeuh Manggung, semilir angin mengusik bisik nyanyian rindu burung pipit di dahan nan tertahan mega hitam, bergelayut manja sendu yang merindu terbendung luka di kelukaan yang tak mampu beranjak pergi dari singgasana hati.

Adalah Indri, gadis manis berbaju biru yang termangu diantara deru butiran rindu masa lalu, menatap kelu dari kelabu rasa menghujam kalbu. Entah kemana… tatapannya hampa menerawang diantara hamparan pohon teh yang menghijau di perkebunan Dayeuh Manggung.

“Maaf Neng Indri, ada tamu mencari Neng”, Ucap Bi Inah lembut, membuyarkan lamunan Indri yang sedang bersandar di pilar teras belakang rumah. “Siapa Bi?,” tanyanya datar sambil menoleh kepada Bi Inah yang berdiri di belakangnya. “Anu Neng… Den Bimo?,” jawab Bi Inah seraya menundukan kepalanya penuh hormat. Tersentak Indri mendengar nama itu. “Siapa Bi, Mas Bimo?,” tanyanya kaget. “Iya Neng… Den Bimo,” jawab Bi Inah dengan nada ketakutan. “Tolong katakan kepada dia, saya tidak ada!,” ucap Indri datar, namun terasa pedas. “Tapi Neng… juragan Istri bilang kalau Neng Indri ada disini,” ucap Bi Inah lagi menerangkan. “Ya sudah, nanti saya kesana,” jawab Indri terasa ketus di pendengaaran Bi Inah. “Iya Neng mangga,” jawab Bi Inah seraya bergegas tergopoh-gopoh meninggalkan Indri yang memendam rasa kesal.

Ya Bimo, seorang anak muda perlente yang terlahir dari keluarga bangsawan kaya raya, ganteng, pendiam, hormat dan nurut kepada orang tua. Pertemuan mereka berawal ketika halal bihalal, yang di selenggarakan oleh perusahaan Teh milik ayahnya Bimo. Dan kebetulan kakek Indripun salah satu mitra bisnisnya ayah Bimo. Di acara tersebut, mereka wajib membawa keluarga masing-masing. Kakek membawa serta Indri. Semenjak kedua orang tua Indri meninggal kerena kecelakaan pesawat, Indri tinggal bersama kakek dan neneknya. Dari pertemuan itu, silaturahmi antara keluarga Bimo dan Indri terjalin baik. Bahkan Bimo sudah dianggapnya cucu kakek seperti Indri. Dari seringnya komunikasi di line telpon dan tatap muka, ahirnya seperti pepatah jawa “Witing tresno jalaran suko kulino,” benih–benih cinta antar kedua insan muda mudi itu terjalin dengan mulus. Enam tahun sudah mereka memadu kasih, berjanji setia sekata sehidup semati, akan selalu bersama.

“Sungguh Dek, bulan besar (Bulan haji) Mas akan datang bersama atau tanpa keluarga Mas untuk melamarmu!,” ucap Bimo yang duduk di sebelah Indri sambil menikmati pisang goreng dan teh hangat Dayeuh Manggung yang Bi Inah hidangkan. “Apa Mas, tanpa keluarga?,” tanya Indri kaget. “Iya sayang, Mas khawatir dengan waktu yang telah kita tentukan, Ayah atau Bunda ada tugas dadakan harus keluar kota,” jawab Bimo, sambil menatap lekat-lekat kekasihnya. Terdiam Indri dengan ucapan Bimo tersebut. Namun masuk akal juga, jika kesibukan kedua orang tua Bimo yang nota bene seorang Saudagar Teh, yang perusahaanya tersebar di beberapa kota, mengharuskan mereka bolak balik keluar kota bahkan luar Negeri untuk mengurus bisnisnya itu.

Dan betul juga di bulan yang telah di tentukan, Bimo datang tanpa keluarganya, dia datang sendiri tanpa ada yang mendampingi. Sempat bertanya dalam hati Indri, tapi diurungkan niatnya itu. Pikir Indri, toh janji Bimo akan datang untuk melamarnya, walaupun tanpa keluarganya. Sumringah rasa hati Indri dengan kedatangan Bimo. Apalagi ketika Bimo berkata, ada yang mau di sampaikan kepadanya. “Pasti Mas Bimo akan melamarku,” pikir Indri penuh yakin.

Namun apa yang terjadi? bagai di sambar petir di siang bolong, ketika Indri membuka kotak persegi yang di sodorkan Bimo. Sebuah undangan jingga. Menikah, “Rr. Fauziah Susanti dengan Rd. Bimo Prasetio”. Gelap penglihatan Indri, bumi terasa tumpah, pijakan terasa hancur bersama kepingan hati yang luluh lantah di telan pengkhianatan. Bimo menikah dengan adik sepupunya yang pernah dikenalkannya setahun yang lalu. Panas terasa udara Dayeuh Manggung yang dingin nan sejuk, berubah laksana dalam oven. Gersang kehidupan Indri, tak lagi terasa mentari berseri senyum menyapa di pagi hari, burung bernyanyi diatas dahan nan rindang di teras belakang rumah Kakek. Semua terasa tak bersahabat, kejam yang dirasa.

Kini Bimo hadir lagi, tanpa rasa malu dan rasa bersalah atas beribu luka dan pengkhianatan untuk Indri. Dia kembali meminta bersatu untuk asa yang tersisa, dari pengkhianatan Istrinya Fauziah Susanti yang pergi meninggalkan Bimo, bersama kekasihnya dulu. Ya mereka menikah karena perjodohan orang tuanya. Indri menyesali dan terluka, kenapa Bimo tidak pernah jujur kalau pertunangan itu ada semenjak mereka duduk di kelas SMA. “Dek… Mas yakin kalau Adek ada di teras belakang ini masih seperti dulu, menunggu Mas sambil menikmati senja yang temaram,” ucap Bimo yang sudah berada di belakang Indri. Tersetak Indri, yang mematung tanpa menghiraukan ucapan dan kehadiran Bimo. “Ya… memang aku sedang disini, di tempat ini. Tempat yang menyimpan beribu manis menjadi pahit, beribu suka menjadi duka, tempat yang kau ciptakan jadi penjara hidup untuk aku!,” jelas Indri, diantara isaknya yang tertahan. “Aku mohon pergilah jangan ganggu aku lagi dengan segala sumpah dan janji palsu mu itu!,” tangis Indri mulai memecah sunyi, merobek senja nan merah dengan isaknya yang berusaha di benamkan dalam lukanya yang kian menganga.

Hening….seakan angin tak sanggup berhembus, mengantar kepergian Bimo atas pinta Indri. Tatapnya yang kosong dalam satu tekad, di teras itu senja di kaki gunung Cikuray, akan dikuburnya semua masa lalu atas nama Bimo Prasetiyo bersama beribu kenangan indah yang berubah menjadi kelam. Selamat tinggal masa lalu, selamat tinggal duka dan kehampaan. Kan di sambutnya mentari pagi dalam senyum bersama tunas-tunas teh yang mulai bersemi di guyur air hujan, di perkebunan Dayeuh Manggung di kaki Gunung Cikuray.


Share posting
wishnoe ida

Share
Published by
wishnoe ida

Recent Posts

Sebutir Kurma Pengganjal Terkabulnya Doa

hanya gara-gara memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja dagangan orang lain, maka doanya tak… Read More

2 jam ago

Persiapan Matang Hantarkan SDN 4 Pataruman Raih Juara 1 Ajang LCC Tingkat Kab. Garut

Oleh : Wishnoe Ida Noor Grahabignews.com.Garut – Rasa haru dan bahagia menyelimuti semua jajaran kepengurusan… Read More

2 hari ago

LCC Usai Digelar, Disdik Garut Persiapkan Ajang LCT

Oleh ; Wishnoe Ida Noor Grahabignews.com.Garut – “Kalau LCC itu lebih ke penguatan literasi dan… Read More

2 hari ago

Bupati Sebut, LCC Upaya Pemerintah Bangun Ekosistem Pendidikan Kompetensi Tinggi

Oleh : Wishnoe Ida Noor Grahabignews.com.Garut – Tuntas sudah acara yang dinantikan dalam penutupan  lomba… Read More

2 hari ago

SDN 4 Pataruman Kembali Menjuarai LCC SD Tingkat Kabupaten Garut 2026

Oleh : Wishnoe Ida Noor Grahabignews.com.Garut – Pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Jenjang SD Tingkat… Read More

2 hari ago

Bupati Garut Buka Rakor GTRA 2026 dan Kenalkan Skema Baru Redistribusi Lahan

Oleh : Rudy Herdiana Grahabignes.com.Garut – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, memimpin Rapat Koordinasi Gugus… Read More

2 hari ago