Seberapa Pentingkah Integritas Bagi Kepala Sekolah?
Artikel Eksklusif
Oleh: Dadang Sutaryat. S.Pd.,M.M
(Pengawas Jenjang SD Kec.Pameungpeuk)
A. Integritas Sebagai Nilai Universal
Dalam bahasa Inggris, kata integrity sering dimaknai dengan honesty atau kejujuran, integritas merupakan karakteristik yang paling penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Berbagai teori kepemimpinan terbaru menawarkan sejumlah karakteristik pemimpin yang efektif. Kouzes dan Posner (2007) melakukan survei terhadap lebih tujuh puluh lima ribu orang yang berasal dari berbagai kalangan. Pernyataan yang diajukan dalam survei itu adalah “sifat atau karakteristik pribadi yang dkagumi dari pemimpin anda?”
Survei yang dilakukan sebanyak empat kali Kouzes dan Posner (2007) secara ajeg menemukan empat karakteristik pemimpin yang dikagumi. Keempat karakteristik itu meliputi :
- Jujur (honest)
- Berpandangan kedepan (foward looking)
- Menginspirasi (inspiring)
- Kompeten (competent)
Keajegan itu tidak saja terjadi dari survei satu ke yang lain, akan tetapi tidak menunjukan perbedaan jika dilihat dari perbedaan demografi, organisasi, maupun budaya. Posisi dua puluh karakteristik pemimpin yang dikagumi hasil empat survei tersebut menujukan empat karakteristik utama
Hasil survei tersebut secara konsisten membuktikan bahwa kejujuran sebagai unsur yang paling penting dalam hubungan antar pemimpin dan pengikutnya. Presentasi memang berbeda-beda, namun peringkatnya tidak pernah berubah sejak pertama dilakukan penelitian pada tahun 1980-an hingga tahun 2000-an. Kejujuran tetap berada pada posisi teratas dibandingkan karakteristik penting lainnya.
Menganalisa hasil survei itu menguatkan pandangan bahwa siapapun dan dimanapun mereka berada apabila akan mengikuti pertama-tama mereka ingin memastikan bahwa orang yang diikuti tersebut layak dipercaya. Hal ini juga berlaku bagi konstituen kepala sekolah. Guru-guru, staff sekolah , para siswa, dan warga sekolah manapun akan bersedia mengikuti kepala sekolah apabila mereka yakin sepenuhnya bahwa sang kepala sekolah adalah orang yang dapat dipercaya. Kalau dilakukan generilasasi hasil survei tersebut dapat diartikan bahwa hampir 90% warga sekolah menginginkan kepala sekolah adalah orang jujur.
Hampir semua orang tidak ingin dibohongi atau ditipu. Kita ingin melihat kejujuran pada siapapun. Pendidik, tenaga kependidikan, atau siswa menginginkan kepala sekolah sebagai sosok yang tahu mana yang benar mana yang salah. Diantara semua kualitas yang dikagumi dari seorang pemimpin, kejujuran merupan sifat yang paling pribadi. Kejujuran merupan sifat pribadi yang mampu mengangkat dan menghancurkan reputasi pribadi seseorang. Orang-orang rela mengikuti pemimpin yang jujur karena kemungkinan ia akan dilihat sebagai orang yang jujur pula, begitu juga sebaliknya. Apabila kita mengikuti pemimpin yang tdiak jujur dapat diartikan bahwa kita telah mengorbankan integritas kita sendiri. Lambat laun, kita tidak hanya menghancurkan harga diri sang pemimpin, tetapi sebenarnya juga tidak menghargai diri kita sendiri.
Bagaimana karakteristik subyektif seperti kejujuran kepala sekolah diukur oleh orang-orang yang dipimpinnya? Konsistensi antara kata dan perbuatan merupakan cara bagaimana orang melihat kejunuran. Guru-guru menunggu apa yang akan ditunjukan oleh kepala sekolah kepada mereka; guru-guru itu mengamati perilaku kepala sekolah.
Kejujuran terkait erat dengan nilai-nilai dan akhlak mulia. Guru-guru akan menghargai orang yang memegang teguh prinsip-prinsip yang mendasar. Guru-guru pasti menolak untuk mengikuti kepala sekolah yang kurang percaya terhadap keyakinan sendiri. Oleh karena itu kepala harus memperjelas nilai-nilai, etika dan standar yang dianutnya dan menyampaikan kepada semua pihak yang dipimpinnya.
B. Integritas Merupakan Dasar Kredibilitas
Kredibilitas merupakan landasan kepemimpinan. Kouzes dan Posner (2007) melakukan penelitian terhadal apa yang dipahami orang tentang kredibilitas. Beberapa ungkapan berikut digunakan orang ketika ditanya apa yang mereka pamahi tentang kredibilitas seorang pemimpin.
- “Pemimpin mempraktikan apa yang mereka khotbahkan”
- “pemimpin melakukan apa yang mereka katakan”
- “Tindakan pemimpin konsisten dengan perkataan”
- “Pemimpin berani bertaruh atas kebenaran perkataan mereka”
- “pemimpin menepati apa yang ia janjikan”
- “Pemimpin melakukan apa yang dikatan akan ia lakukan”
Berdasarkan jawaban-jawaban tersebut dapat diartikan bahwa ketika orang akan memutuskan apakah seorang pemimpin dapat dipercaya atau tidak, terlebih dahulu orang tersebut akan mendengar kata-katanya, kemudian memperhatikan tindakanya; mendengar janji-janjinya, kemudian menunggu apakah janji-janji itu diikuti dengan bukti. Predikst “kredibel” akan diberikan ketika terjadi keselarasan antara kata dan perbuatan . Akan tetapi jika sebaliknya, tidak jarang si pemimpin akan menerima predikat “munafik”. Jika kepala sekolah sering mengungkapkan sejumlah nilai tapi dalam praktiknya melakukan nilai-nilai lain, maka guru-guru yang dipimpinnya akan memandangnya sebagai orang yang berpura-pura. Jika kepala sekolah mempraktikkan apa yang dipidatokan, warga sekolah yang dipimpin akan lebih bersedia untuk mempertaruhakan karir sebagai jaminan.
Berdasarkan pemahaman -pemahaman tersebut Kouzes dan Posner (2007) merumuskan hukum pertama kepemimpinan yang berbunyi :
“ Jika anda tidak mempercayai si pembawa pesan, anda tidak akan mempercayai pesannya”
Berdasarkan hukum ini, Kouzes dan Posner (2007) mengajukan kredibilitas merupakan persyaratan agar seorang pemimpin dipercaya oleh konstituennya. Untuk membanguan kredibilitas, kedua ahli itu mengajukan hukum kedua kememimpinan :
LAAKAAL : “Laksanakan Apa Yang Anda Katakan Akan Anda Laksanakan”
LAAKAAL mencakup dua unsur : katakan dan lakukan. Kredibel pemimpin pertama-tama harus memperjelas keyakinan; mereka harus tahu apa yang mereka yakini. Hal ini masih terkait dengan ‘katakan’. Selanjutnya pemimpin harus menunjukan perkataan tersebut dalam kenyataan. Para pemimpin itu harus bertindak sesuai dengan kepercayaan dan ‘lakukan’.

