Hikmah Pagi
Artikel Eksklusif
Oleh : H Derajat
Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita
Imam Ibnu Athaillah ingin menyampaikan pesan kepada setiap orang yang menempuh jalan penghambaan kepada Allah agar jangan sampai hubungannya dengan Allah itu layaknya hubungan transaksional. Sebagaimana diketahui, bahwa dalam kegiatan transaksi itu menghendaki setiap pembeli untuk memperoleh barang yang ia inginkan sesuai dengan ukuran uang yang ia keluarkan. Bahkan pembeli memiliki hak untuk menuntut penjual jika barang yang ia inginkan tidak sesuai dengan harapannya. Sikap inilah yang harus dijauhi bagi setiap hamba.
Seorang hamba harus menjauhkan dirinya dari memfokuskan diri terhadap pemberian Allah padanya. Karena sikap tersebut dapat menimbulkan penyesalan jika ia merasa telah banyak melakukan kebaikan namun nyatanya Allah belum mengabulkan apa yang ia minta. Ibarat anak kecil yang mengukur kecintaan orang tuanya lewat pemberian orang tua kepadanya. Ketika diberi apa yang ia minta ia merasa senang dan ketika keinginannya tidak terpenuhi ia menyesal dan menjauhi kedua orang tuanya. Jauhilah sikap seperti ini kepada Allah, karena nikmat yang Allah berikan itu tak sebanding dengan seluruh ibadah yang telah ia lakukan.
Seorang hamba harus memfokuskan dirinya ketika Allah menjadikannya berada dalam ketaatan kepada-Nya dan membuatnya rela atas apa yang Allah takdirkan kepadanya.
Telah berkalam Mursyid kami yang agung Sayyidi Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari :
مَتَى جَعَلَكَ فِي الظَّاهِرِ مُمْتَثِلاً لِأََمْرِهِ
وَرَزَقَكَ فِي البَاطِنِ الإِسْتِسْلاَمُ لِقَهْرِهِ فَقَدْ أَعْظَمَ المِنَّةَ عَلَيْكَ
Saat Allah membuatmu patuh pada perintah-Nya. Dan menjadikan batinmu pasrah atas takdir-Nya maka itu pertanda bahwa Allah sedang memberi sesuatu yang besar padamu
Di antara tips yang bisa dilakukan seorang hamba untuk memasrahkan batinnya kepada Allah yakni :
Pertama, yakinlah bahwa takdir terbaik adalah yang Allah berikan saat ini, maka jangan meminta takdir yang sedang diterima orang lain.
Kedua, yakinlah bahwa kedekatan hamba kepada Allah itu tergantung seberapa besar responnya atas takdir yang Allah berikan saat ini, kalau ia menanggapi takdir terhadap dirinya itu dengan sikap rela dan sabar, tentu akan mempermudah dirinya dalam memasrahkan batinnya kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai Mukmin Sejati yang selalu membangkitkan hati kita terus menerus mencintaiNya. Aamiin.

