Pramuka dan Penanaman Nilai-Nilai Patriotisme
Artikel Eksklusif
Oleh: Nuni Nurbayani, M.Pd.

Teriknya mentari tidak menghentikan langkah para siaga yang berkelompok menyusuri sungai sepanjang perjalanan menuju lapang Ngamplang Cilawu, Garut. Jumlahnya per kelompok tidak lebih dari sepuluh orang. Paling depan seorang siaga dengan selempang dan atribut lengkap memimpin. Selempang yang melintang dibajunya penuh dengan bulatan-bulatan kecil yang disebut Tanda Kecakapan Khusus (TKK) Pramuka. Bulatan-bulatan tersebut berbeda gambar satu sama lain. TKK menunjukkan seorang pramuka lulus ujian bidang tertentu. Baik TKK bidang agama, mental, moral, spiritual, pembentukan pribadi dan watak, keterampilan, TKK bisang sosial, kemanusiaan, gotong royong perdamaian dunia, kesehatan dan sebagainya.
Mereka memulai petualangannya menyebrangi sungai yang lebarnya kecil, arusnya tenang dan dangkal, hanya setinggi lutut anak-anak siaga. Kakak-kakak pembina dengan sigap membantu adik-adik siaga dengan tali yang terbentang untuk melewati sungai. Ada raut takut dibeberapa wajah para siaga. Maklum, mereka pada umumnya kelas 4 dan kelas 5 SD. Ada beberapa kelas 6. Lainnya mununjukkan binar antusiasme. Meskipun peluh bercucuran dan lelah bergelayut tidak ada yang berhenti berjalan. Sampai berbagai pos dilalui dari pos pengetahuan, baris berbaris, halang rintang (menyusuri sungai), panjat bukit, tali temali, membuat belangkar, dan uji pengetahuan tentang sandi (sandi rumput, morse, semaphore).
Ya, itu sepenggal pengalaman salah satu kegiatan pramuka tingkat siaga (SD) yang terjadi 28 tahun silam. Yang dimasa Pandemi Covid-19 ini tidak dirasakan sensasi petualangan penjelajahan oleh anak siaga dan penggalang. Bahkan di beberapa SD di Garut beberapa sekolah tidak melaksanakan ekstra kulikuler Kepramukaan. Sangat disayangkan. Padahal dari kegiatan Pramuka ini selain pengetahuan, bernyanyi dan bertepuk, anak-anak belajar bersosialisasi, berkelompok, bekerja sama, berani, disiplin, bertanggung jawab, pantang menyerah, dan sebagainya. Keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan Pramuka di Sekolah
Tepat hari ini, 14 Agustus 2021 gerakan Pramuka di Indonesia genap berusia 60 tahun. Hari lahir Gerakan Pramuka ditetapkan berdasarkan pada saat dilantiknya Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas), Kwartir Nasional (Kwarnas) dan Kwartir Nasional Harian (Kwarnari) di Istana Negara sebagai tindak lanjut diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia.
Kegiatan pramuka menjadi ekstra kulikuler wajib sejak ditetapkannya Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan saat itu, Bapak Muhammad Nuh. Namun, tidak semua sekolah benar-benar menyelenggarakan kegiatan tersebut. Salah satu penyebabnya sekolah tidak memiliki guru yang kompeten untuk menjadi Pembina pramuka. Dari penuturan salah seorang guru, pelaksanaan kegiatan pramuka tergantung kebijakan Kepala Sekolah.
Dari beberapa sekolah yang melaksanakan kegiatan Pramuka, tidak semua siswanya mengikuti kegiatan tersebut. Kekhawatiran orang tua terhadap anak adalah salah satu penyebabnya. Bagi beberapa orang tua kegiatan penjelajahan atau pun kemah dianggap terlalu ekstrim, terutama bagi anak usia siaga (SD) dan penggalang (SMP). Apalagi bebarapa kejadian kecelakaan sering terjadi saat kegiatan penjelajahan berlangsung. Yang terbaru terjadi pada tahun 2020. 10 orang meninggal dari 257 orang siswa SMP Negeri 1 Turi Kabupaten Sleman yang mengikuti kegiatan susur sungai di Sungai Sembor yang berada di Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Sleman, D.I. Yogyakarta. Namun, jika kegiatan tersebut dilakukan dengan SOP yang baik, kecelakaan bisa dihindari. Seperti kecelakaan di Sleman disebabkan oleh guru yang tidak membimbing dan menyertai siswa saat kegiatan susur sungai.
Hal tersebut diatas tidak serta merta menjadikan kegiatan pramuka harus dihentikan. Namun dalam beberapa kegiatan seperti perkemahan dan penjelajahan betul-betul harus dipersiapkan dengan baik dan sesuai dengan SOP. Karena banyak nilai karakter dari kegiatan Pramuka yang bisa diambil oleh para siswa. Penanamain nilai-nilai Dasa Dharma Pramuka yang kemudian diujikan dan diapresiasi dengan diberikannya TKK merupakan pembelajaran implementatif untuk mengasah karakter siswa. Di Pramuka pembelajaran yang dilakukan dengan bermain dan bernyanyi tentunya akan lebih menyenangkan dan lebih cepat diserap.
Pramuka dan Nilai Luhur Patriotisme
Dalam UU RI No. 12 Tahun 2010 yang telah direvisi, gerakan Pramuka dibentuk dengan maksud untuk menghidupkan dan menggerakan kembali semangat perjuangan yang dijiwai nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang beraneka ragam dan demokratis, maka pendidikan kepramukaan harus bersifat mandiri, sukarela dan bebas dari politik serta dilandasi semangat Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nilai-nilai yang termaktub dalam tujuan Pramuka tersebut adalah sejalan dengan nila-nilai luhur Patriotisme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Sementara menurut buku “Jiwa Patriotisme” oleh Sri Kartini (2020), yang dtulis kembali oleh Fahri Zurfikar, detikedu, patriotisme berasal dari kata patriot dan isme, artinya sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan. Adapun yang dimaksud dengan patriotisme dijelaskan menjadi beberapa pengertian.
- Patriotisme merupakan sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya, semangat cinta tanah air.
- Patriotisme adalah sikap yang berani, pantang menyerah, dan rela berkorban demi bangsa dan negara.
- Patriotisme adalah sikap dan perilaku seseorang yang dilakukan dengan penuh semangat, rela berkorban untuk kemerdekaan, kemajuan, kejayaan, dan kemakmuran bangsa.
Spirit jiwa patriotism yang terdapat dalam kegiatan kepramukaan perlu diinternalisasi. Guru-guru Pembina Pramuka harus dibina agar dapat memaksimalkan pendidikan pramuka kepada siswa dengan baik. Karena kegiatan pramuka ini akan sangat membantu mengembangkan karakter siswa dalam kehidupan di masyarakat. Apalagi dalam kondisi krisis multidimensional saat ini akibat pandemic covid-19.
Nilai luhur patriotisme dalam kegiatan pramuka di saat pandemi Covid-19 masih dapat dilakukan oleh siswa. Anak bisa diberi tugas membantu orang tua, mendirikan tenda bersama orang tua, tali temali, membuat belangkar, sandi, mempraktekan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) membantu tetangga, membersihkan lingkungan rumah dan sekitar. Dan kegiatan lainnya yang bermanfaat. Kegiatan tersebut dapat direkam sebagai bahan laporan kepada Pembina.
*Penulis adalah Anggota KPU Divisi Sosialisasi dan SDM









