Rawe-rawe Rantas Malang-malang Putung, Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh

Share posting

Artikel Eksklusif

Oleh: Nuni Nurbayani,M.Pd.

Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh, adalah tema kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-76 tahun 2021. Seolah ingin memantrai Indonesia dengan tema ini, agar tetap bertahan dan terus tumbuh di tengah turbulensi Covid-19 yang memukul mundur ekonomi bangsa.  Tidak hanya ekonomi, persoalan yang bermula dari sektor kesehatan ini meluas hingga sektor pendidikan, sosial, politik dan bahkan Hukum. Krisis multidimensional sudah tak terelakan lagi. Meskipun begitu harapan akan tetap tumbuh ditengah krisis wajib diupayakan oleh pemerintah dan segenap masyarakat Indonesia.

76 tahun silam kemerdekaan yang kita nikmati saat ini tidak didapat dengan percuma. Bukan hadiah dari Jepang yang takluk pada sekutu. Namun, direbut dengan keringat dan darah. Kini, lawan kita bukan lagi negara lain yang invansi ke negara kita. Tapi lawan kita adalah diri kita sendiri, diri yang lemah tidak memiliki kompetensi, pola fikir yang negatif, tidak mau berubah enggan berkolaborasi. Dalam Bahasa Dweck ini masuk ke dalam kategori  fixed mindset. Carol S. Dweck seorang Profesor di bidang Psikologi di Standford Univercity mengungkapkan tentang kekuatan pola fikir yang mempengaruhi kehidupan manusia dalam bukunya yang berjudul Mindset: Changing the Way You Think to Fulfil Your Potential.

Dilansir dari gramedia.com, fixed mindset adalah pola fikir seseorang yang percaya bahwa apa yang dianutnya yang paling benar. Ia cenderung menghindari tantangan-tantangan dan fokus berlebihan pada sesuatu yang diketahuinya. Kemampuannya berkembang sangat minimal, karena pemikirannya cenderung tertutup. Pikiran tertutup menyebabkan sesorang menjadi tidak mau berkembang, tidak adaptif, tidak bisa mengatasi masalah yang timbul akibat perubahan.

Negara kita tidak siap menghadapi invansi covid-19 ketika tiba kurang dari 2 tahun silam. Covid-19 dengan cepat menyebar dan tidak mereda. Bahkan, media asal America Serikat, The New York Time pada bulan Juli kemarin menyebutkan bahwa Indonesia menjadi episentrum baru Covid-19 di dunia. Menyusul kembalinya banyak warga negara asing ke negara masing-masing. Jumlahnya tidak sedikit, CNBC melaporkan ribuan warga asing eksodus dari Indonesia sejak tanggal 1 Juli 2021.

Mengerikan jika Indonesia benar menjadi episentrum Covid-19. Lalu, apakah kita akan tinggal diam? Rawe-rawe rantas malang-malang putung, segala yang menghalangi tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) harus disingkirkan. Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh janganlah menjadi slogan semata. Rapatkan barisan bersama berjuang.

Pemerintah yang berintegritas, Masyarakat yang Sadar

Tidak meredanya covid-19 di Indonesia, bukan semata karena tidak kompaknya pemerintah dan juga aparat dalam menangani Covid. Kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) misalnya. Dibeberapa daerah PPKM diberlakukan, namun di jalan tidak ada spot check penyekatan dari aparat kepolisian. Persoalan lainnya, data penerima bansos yang tidak akurat, ditambah pula ada yang memancing di air keruh. Mencari keuntungan dalam kesempitan. Ditangkapnya Mentri Sosial, Juliari Batubara dalam kasus dugaan korupsi bantuan sosial (bansos) covid-19 menjadi salah satu indikasi bahwa ada beberapa (oknum) pemerintah yang tidak berintegritas. Belum lagi kasus vaksin palsu dan lain sebagainya.

Selain itu, kesadaran masyarakat dalam melaksanakan 5M (Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Menjauhi Kerumunan, Membatasi Mobilitas) masih sangat rendah. Bukan untuk berkerja. Masyarakat masih lalu lalang di jalan hanya untuk sekedar nongkrong atau memasuki pusat perbelanjaan. Masih banyak yang tidak memakai masker ketika berada di ruang publik. Dilema terus menghantui. Pemerintah dan aparat yang tidak kompak, masyarakat yang abai menyebabkan Covid-19 betah bahkan bermutasi di Indonesia.

Berapa triliun telah digelontorkan untuk mengatasi covid-19? Tahun 2020 lebih dari 1000 triliun digelontorkan untuk penanganan covid-19. Venny Suryanto dalam Kontan.co.id, menulis Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat total anggaran penanganan Covid-19 pada tahun 2020 mencapai Rp. 1.035,2 triliun. Sumber anggaran tersebut Rp. 937,42 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Rp. 86,36 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Rp. 6,50 triliun dari sektor moneter, Rp. 4,02 triliun dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rp. 320 miliar dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan Rp. 625 miliar dari dana hibah dan masyarakat. Belum lagi anggaran covid-19 tahun 2021. Lalu, apa yang kemudian terjadi dengan anggaran pembangunan dan nasib bangsa ini di masa depan?

Bersatu dan Bangkit

 Bersama, bersatu, bergotong royong, seolah menjadi kata tanpa makna saat ini. Bukan hanya karena globalisasi yang menjadikan masyarakat menjadi individualis dan pragmatis. Oknum di pemerintahan yang tertangkap tangan melakukan korupsi menyebabkan terkikisnya trust (kepercayaan) masyarakat kepada Pemerintah. Pemerintah harus menunjukkan bahwa dirinya dapat dipercaya. Serta masyarakat  harus memiliki kesadaran penuh untuk membantu negara ini keluar dari krisis multidimensional dengan menerapkan 5 M, mengasah kompetensi, berusaha berkreasi dan berprestasi.

Jika 76 tahun silam Indonesia menghalau penjajah dengan bambu runcing. Kini kita bisa menghalau covid-19 dengan pola hidup sehat, memakai masker, mencuci tangan, memakai handsanitazer. Namun intervensi pemerintah masih sangat perlu dilakukan dalam kebijakan. Masyarakat kita umumnya masih jauh dari hidup sehat. Pola makan yang buruk, jajanan yang tidak sehat di sekolah, lingkungan dengan sanitasi buruk, pengelolaan sampah yang masih tidak karu-karuan adalah PR besar bagi pemerintah. Ditambah masyarakat yang tidak sadar, lengkap sudah penderitaan bangsa ini.

Bersatu dan bangkit tidak bisa ditunda lagi. Pemerintah sudah menggelontorkan dana yang besar untuk anggaran kesehatan dan bantuan sosial. Tugas kita menggunakan dengan baik, tidak menyia-nyiakannya. Kita harus tangguh, ekonomi harus tumbuh, pendidikan harus kembali berjalan. Membentengi kesehatan dengan asupan vitamin dari makanan bergizi. Memenuhi pengetahuan dengan literasi. Mematuhi 5M, bergotong-royong, bersatu, bekerjasama menyingkirkan covid-19. Rawe-rawe rantas malang-malang putung.

 

Penulis adalah anggota KPU Garut, Divisi Sosialisasi dan SDM.

 


Share posting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *