Ketika Nabi Musa Merasa Dirinya Paling Hebat

Share posting

Nabi Musa merasa tidak punya saingan di dalam kedekatannya dengan Allah, namun ternyata ada yang lebih hebat darinya yaitu Nabi Khidir a.s

Artikel Eksklusif

Oleh : H Derajat

Ketua Pasulukan Loka Gandasasmita

mengungkap Khidir di jaman sekarang

Ibnu Hibban menulis sebuah hadits, “Dari Abu Hurairah yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Musa bertanya kepada Rabb-nya ihwal tujuh perkara yang dia sangka hanya dimilikinya, sedang perkara yang ketujuh tidak disukai Musa.”

Pertama, Musa bertanya, “Ya Rabb, ayyu ibaadika ittaqa?” (Wahai Rabb! Siapakah hamba-Mu yang paling bertakwa?)”. Nabi Musa berharap Allah menjawab, “Kamu wahai Musa”, dan itu wajar karena Musa adalah nabi, dan kaum yang dihadapinya adalah kaum yang sangat ingkar yaitu kaum Bani Israil atau kaum Yahudi.

Namun Allah tidak menjawab seperti yang diharapkan Nabi Musa. Allah menjawab, “Allazi yasykuru wala yansa”, (orang yang paling bertakwa adalah) yang selalu ingat kepada-Ku dan yang tidak pernah lupa.

Kedua, Musa bertanya, “Fa ayyu ibaadika ahda?” (Siapa hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk?). Nabi Musa berharap Allah menjawab, “Kamu wahai Musa”, karena ia memang mendapat petunjuk langsung dengan turunnya Kitab Taurat kepadanya.

Namun tidak menjawab seperti yang diharapkan Nabi Musa. Allah menjawab, “Allazi tataba’a alhuda” (Orang yang paling mendapat petunjuk yaitu) yang mengikuti petunjuk, yaitu petunjuk dari Allah dan Rasul.

Ketiga, Musa bertanya, “Fa ayyu ibaadika ahkam?” (Siapa hamba-Mu yang paling bijaksana). Nabi Musa berharap Allah menjawab, “Kamu wahai Musa”, namun Allah tidak menjawab begitu. Allah menjawab, “Allazi yahkumu linnasi maa yahkumu linafsihi?” (Orang yang paling bijaksana yaitu) yang memberi keputusan terhadap manusia seperti dia memberi keputusan untuk dirinya sendiri.

Keempat, Musa kembali bertanya, “Fa ayyu ibaadika a’lam?” (Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?). Nabi Musa berharap Allah menjawab, “Kamu wahai Musa”, karena Nabi Musa menerima langsung wahyu dari Allah, tetapi Allah tidak menjawab begitu.

Jadi meskipun ia seorang doktor, seorang profesor, tapi ia berhenti belajar, berhenti membaca, berhenti menambah ilmu, maka sesungguhnya ia bukan orang yang paling berilmu. Allah menjawab, “Aalimu laa yasyba’u minal ilmi yajmau ilmannasi ilaa ilmihi” (Orang berilmu yaitu) yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.

Kelima, Musa bertanya, “Fa ayyu ibaadi a’azza?” (Siapa dari hamba-Mu yang paling mulia?). Nabi Musa berharap Allah menjawab, “Kamu wahai Musa”, karena ia adalah nabi sehinga ia tentu orang yang paling mulia di tengah kaumnya.

Namun Allah tidak menjawab begitu, Allah menjawab, “Allazi isa qaddara afa” (Orang yang paling mulia yaitu) yang ketika mampu membalas, dia malah memilih untuk memaafkan.

Keenam, Musa bertanya, “Fa ayyu ibaadika agna?” (Siapa pula hamba-Mu yang paling kaya?). Nabi Musa berharap Allah menjawab, “Kamu wahai Musa”, namun Allah tidak menjawab seperti yang diharapkan Nabi Musa.

Allah menjawab, “Allazi yarda bima uutiya” (Orang yang paling kaya yaitu) yang rida atas apa yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Ketujuh, Musa bertanya lagi, “Fa ayyu ibaadika afqaru?” (Siapakah hamba yang paling fakir?). Perkara ketujuh yang ditanyakan ini tidak disukai oleh Nabi Musa. Ia tidak mengharapkan Allah menjawab, “Kamu wahai Musa.”

Dan Allah menjawab, “Zaahibul mankusin” (Orang yang paling fakir yaitu) yang merasa serba kekurangan. Sudah punya banyak harta, tapi masih merasa kurang.

Dari ketujuh pertanyaan Nabi Musa yang timbul dari perasaan lebih unggul dari manusia lainnya itu Allah menjawab bahwa ada manusia yang lebih unggul dari dirinya yaitu Nabi Khidir a.s sebagaiman Syekh Fathurrahman menjelaskan dalam kanal youtubenya :

Masa berganti, Khidir a.s yang dikatakan lebih hebat daripada Nabi Musa pun berganti. Maka siapakah yang menggantikan posisi Nabi Khidir, yang selalu mendapat bimbingan langsung dari Allah ? Dialah orang yang terus menerus bersuluk yang selalu berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah.

Dialah seorang Mursyid yang sanad keilmuannya bersambung kepada Rasulullah SAW, walau terkadang dirinya tersembunyi diantara manusia sebagaimana Nabi Musa terkecoh kepada Nabi Khidir a.s.

Seorang Mursyid yang bersanad keilmuan bersambung kepada Rasulullah selalu mendawamkan Dzikir sebagaimana Rasulullah mengajarkan kepada Sayyidina Ali, yang dari sanalah timbul kewajiban berbaiat kepada seorang Mursyid sebagaimana Nabi SAW bersabda :

عن دود عن ابن مسعود قال رسول الله ص م : كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ

“Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah serta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud)

Mempunyai seorang Mursyid adalah kewajiban bagi seorang penuntut ilmu sebagaimana Mursyid kami Syekh Abu Yazid Al Bisthami mengatakan tentang sebuah Hadis Nabi SAW :

مَنْ لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ

“Barangsiapa yang tiada Syekh Mursyid (guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syetanlah yang menjadi gurunya”.

Adapun Hadis yang dijadikan sebagai dalil bahwa Ali telah menerima Tarekat dari Nabi adalah didasarkan pada Hadis ketika Nabi membai’at Ali ibn Abi Thalib sebagaimana yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Baihaqi :

وَعَنْ عَلِىٍّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَيُّ الطَّرِيْقَةِ أَقْرَبُ إِلَى اللهِ وَأَسْهَلُهَا عَلَى عِبَادِ اللهِ وَأَفْضَلُهَا عِنْدَاللهِ تَعَالَى؟ فَقَالَ: يَاعَلِىُّ عَلَيْكَ بِدَوَامِ ذِكْرِاللهِ فَقَالَ عَلِىُّ كُلُّ النَّاسِ يَذْكُرُونَ اللهَ فَقَالَ ص م: يَاعَلِىُّ لاَتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَيَبْقَى عَلَى وَجْهِ اْلأَرْضِ مَنْ يَقُولُ, اللهُ اللهُ. فَقَالَ لَهُ عَلِىُّ كَيْفَ أَذْكُرُ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ ص م: غَمِّضْ عَيْنَيْكَ  وَاَلْصِقْ شَفَتَيْكَ وَاَعْلَى لِسَانَكَ وَقُلْ اللهُ اللهُ .

“Dan dari Sayyidina Ali Karramahullahu wajhahu, beliau berkata: Aku katakan, Ya Rasulallah, manakah jalan/tarekat yang sedekat-dekatnya kepada Allah dan semudah-mudahnya atas hamba Allah dan semulia-mulianya di sisi Allah? Maka sabda Rasulullah, ya Ali, penting atas kamu berkekalan/senantiasa berzikir kepada Allah. Maka berkatalah Ali, tiap orang berzikir kepada Allah. Maka Rasulullah bersabda: Ya Ali, tidak akan terjadi kiamat sehingga tiada tinggal lagi atas permukaan bumi ini, orang-orang yang mengucapkan Allah, Allah, maka sahut Ali kepada Rasulullah, bagaimana caranya aku berzikir ya Rasulullah? Maka Rasulullah bersabda: coba pejamkan kedua matamu dan rapatkan/katubkanlah kedua bibirmu dan naikkanlah lidahmu ke atas dan berkatalah engkau, _Allah-Allah.

Lidah Ali telah tertungkat ke atas, tentulah lisannya tidak dapat menyebut Allah, Allah. Maka pada saat itu juga Ali ibn Abi Thalib mengalami fana fillah. Setelah Ali sadar, maka Nabi bertanya kepada Ali mengenai perjumpaannya dengan Allah, maka Ali berkata :

رَأَيْتُ رَبِّى بِعَيْنِ قَلْبِى, فَقُلْتُ لاَشَكَّ أَنْتَ أَنْتَ اللهُ

“Kulihat Tuhanku dengan mata hatiku dan akupun berkata: tidak aku ragu, engkau, engkaulah Allah”.

Setelah Ali menceritakan perjumpaannya dengan Allah, maka kemudian Nabi membawa Ali di hadapan para umat dan berkata :

اَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِى بَابُهَا

“Aku adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah pintunya”.

Dari Sayyidina Ali inilah kemudian turun temurun keilmuan sebagaimana yang diajarkan dari Rasulullah kepada beliau hingga ke para Mursyid penerusnya.

Semoga Allah memberikan kepada kita semua dengan bimbingan Para Mursyid suatu ilmu yang langsung dari sisi Allah (laduni). Aamiin ya Robbal ‘alamin.

Ilmu Laduni adalah ilmu dari sisi Allah langsung tanpa perantara sebagaimana ayat dalam surah Al Kahfi :

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا ۝٦٥

fa wajadâ ‘abdam min ‘ibâdinâ âtainâhu raḫmatam min ‘indinâ wa ‘allamnâhu mil ladunnâ ‘ilmâ

Lalu, mereka berdua bertemu dengan seorang dari hamba-hamba Kami yang telah Kami anugerahi rahmat kepadanya dari sisi Kami. Kami telah mengajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.

Ilmu Laduni adalah ilmu dari sisi Allah yang mengungkapkan kegaibanNya, yang hanya diberikan kepada hambaNya yang terus menerus berdzikir dan mendekatkan diri kepadaNya.

Surah Al Jinn ayat 26-27 :

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ ۝٢٦

‘âlimul-ghaibi fa lâ yudh-hiru ‘alâ ghaibihî aḫadâ

Dia mengetahui yang gaib. Lalu, Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada siapa pun,

اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ ۝٢٧

illâ manirtadlâ mir rasûlin fa innahû yasluku mim baini yadaihi wa min khalfihî rashadâ

kecuali kepada rasul yang diridai-Nya. Sesungguhnya Dia menempatkan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.

Nah dari Rasul dalam ayat inilah terus mengalir kepada Mursyid yang ngalap ilmu kepada beliau. Insya Allah.

 

 


Share posting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *