Jangan Meminta-Minta, Karena Itu Bagian Daripada Baiat Kita Kepada Rasulullah SAW
wahai umat yang bertarekat ingatlah bahwa kita sudah membaiat Rasulullah sebagai jungjunan, sebagai Rasul Allah dan sebagai Mursyid teragung.
Artikel Eksklusif
Oleh : H Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.
Salah satu imam besar umat muslim yakni Imam Syafi’i memiliki guru yang sangat masyhur. Beliau adalah Imam Sufyan al-Tsauri. Salah satu kisah yang terkenal dari Imam Sufyan Al-Tsauri adalah perihal keikhlasan beliau. Dikutip dari kitab Nashaihul Ibad, beliau terjatuh di sebuah sumur yang tidak terlalu dalam di jazirah arab.
Dalam riwayat yang ditulis di kitab ini, Imam Sufyan al-Tsauri menolak setiap bantuan yang datang kepadanya. Bantuan yang beliau tolak adalah bantuan dari orang-orang yang pernah belajar pada beliau.
Setiap ada orang yang akan membantu, beliau selalu bertanya “Apakah engkau pernah belajar padaku?”.
Saat orang yang akan membantunya menjawab “Iya pernah”, maka Imam Sufyan al-Tsauri menolak bantuan tersebut. Hal ini terjadi berkali-kali.
Masyarakat sekitar sumur yang mengetahui Imam Sufyan al-Tsauri yang sangat masyhur tentu saja berpikiran bahwa tidak akan ada yang tidak mau menolong beliau. Siapa yang tidak mengenal sosok Imam Sufyan Al-Tsauri yang begitu masyhur karena kealimannya?
Mengetahui kenyataan tersebut, salah satu murid Imam Sufyan al-Tsauri segera pergi mencari orang yang tidak pernah menimba ilmu pada guru Imam Syafi’i dan ulama-ulama besar tersebut. Butuh waktu lama untuk mencari orang tersebut, karena begitu masyhur dan alimnya Imam Sufyan al-Tsauri.
Hingga akhirnya ia menemukan salah satu warga Suku Badui yang tidak pernah menimba ilmu pada gurunya. Murid Imam Sufyan al-Tsauri pun segera meminta bantuan kepada orang tersebut. Ia berkata “tolong, bantulah seseorang dalam sumur itu,”. Orang tersebut mengiyakan, dan dibawalah ia ke tepi sumur tempat Imam Sufyan al-Tsauri terjatuh.
Ketika ia mulai menengok ke dalam sumur, Imam Sufyan al-Tsauri bertanya, “Apa yang akan kau lakukan?”, orang badui tersebut menjawab “Menolongmu untuk mengeluarkanmu dari sumur ini,”. Mendengar itu, Imam Sufyan al-Tsauri bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan pada setiap orang yang ingin membantunya sebelumnya.
“Apakah engkau pernah belajar padaku?”, mendengar pertanyan tersebut, orang badui itu menjawab “Aku saja tak mengenalmu wahai tuan, apalagi belajar padamu, tak pernah kulakukan,” Mendengar jawaban itu, Imam Sufyan al-Tsauri mengiyakan bantuan dari orang badui tersebut dan berhasil keluar dari sumur.
Sosok Imam Sufyan al-Tsauri enggan dibantu semua orang yang merupakan muridnya karena ia tidak mau merasa memiliki kompensasi mengajar pada murid-muridnya. Karena sikap keikhlasan beliau yang khawatir dinilai sebagai imbalan ilmu yang telah beliau ajarkan.
Sedemikian hati-hatinya para alim ulama terdahulu untuk menyaring setiap pemberian bantuan orang lain kepada dirinya. Memang demikian kadang kala memohon bantuan kepada orang lain bisa saja menjatuhkan marwah kehormatan seseorang apabila orang ada yang terpaksa memberikan karena dipinta oleh kita.
Dalam sebuah riwayat dikatakan Auf bin Malik Al Asyjai, dia berkata, “Kami pernah berada dekat Rasulullah SAW selama sembilan atau delapan atau tujuh hari. Saat kami hendak berpisah, beliau bersabda, “Apakah kalian tidak berbaiat kepada Rasulullah?” Ketika itu kami baru saja berbaiat kepada beliau, maka kami pun menjawab, “Sesungguhnya kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah.”
Kemudian beliau bertanya lagi: “Apakah kalian tidak berbaiat kepada Rasulullah?” kami menjawab, “Sungguh, kami telah berbaiat kepada Anda wahai Rasulullah.”
Beliau mengulangi pertanyaannya, “Apakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Maka kami pun mengulurkan tangan sambil berujar, “Sesungguhnya kami telah berbaiat kepada Tuan, lalu atas apa lagi kami berbaiat kepada Tuan wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Bahwa kalian akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun juga, akan menegakkan shalat lima waktu, akan berlaku patuh kemudian beliau melirihkan perkataannya, “Dan tidak akan meminta sesuatupun kepada orang banyak.”
Auf berkata, “Aku pernah melihat sebagian dari mereka itu suatu saat cambuknya jatuh, tetapi dia tidak meminta tolong sedikit pun kepada orang lain untuk mengambilkannya.” (HR Muslim).
Bahkan orang yang tidak gampang meminta-minta diberikan jaminan surga kepadanya.
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ وَكَانَ ثَوْبَانُ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَكْفُلُ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ فَقَالَ ثَوْبَانُ أَنَا فَكَانَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا
Dari Tsauban mantan budak Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapakah yang menjamin untukku untuk tidak meminta-minta sesuatupun kepada orang lain, dan aku menjaminnya masuk Surga? Tsauban berkata; saya! Dan Tsauban tidak pernah meminta sesuatupun kepada orang lain” (HR Abu Daud).
Demikianlah orang yang menjalankan tarekat mengetahui bahwa tidak meminta bantuan adalah bagian daripada Baiat kita kepada Rasulullah. Namun demikian bukan pula kita dilarang untuk menerima bantuan selama atas dasar saling mengasihi sesama manusia.
Ku tutup risalah ini dengan do’a:
“Alloohumma innii as-aluka an tarzuqonii rizqon halaalan waasi’an thoyyiban min ghoiri ta’abin wa laa masyaqqotin wa laa dhoirin innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir.”
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar melimpahkan rezeki kepadaku berupa rezeki yang halal, luas dan tanpa susah payah, tanpa memberatkan, tanpa membahayakan dan tanpa rasa lelah dalam memperolehnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”
Wallahu ‘alam..


