Dirgahayu Pasulukan Loka Gandasasmita Ke-28

Share posting

Semakin matang dalam usia, semakin matang dalam keilmuan.

Artikel Eksklusif

Oleh : H Derajat

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Muhammadin wa aalihi ma’at tasliimi wabihii nasta’iinu fii tahshiilil ‘inaayatil ‘aammati wal-hidaayatit taammah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin”.

Nadzhaman berikut ini kami persembahkan dalam rangka merayakan Ulang Tahun Pasulukan Loka Gandasasmita ke 28 tepat hari ini tanggal 1 Mei, inilah Nadzhaman perpaduan Bahasa Arab dan Bahasa Cirebon yang mencerminkan Ajaran Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Syeikh Abdurrauf Fanshuri, Syeikh Abdul Muhyi yang mengandung intisari ajaran Monoteisme Nusantara yang sudah mengurat akar ribuan tahun yang lalu.

Sahabat-sahabatku, dalam tradisi tarekat yang berkembang di Jawa Barat dan sekitarnya, bilkhushus Cirebon, ada amaliyah tawassul dalam bentuk  Nadzhaman atau kidungan. Corak amaliyah semacam ini mencerminkan tradisi tarekat yang sudah turun temurun dilestarikan oleh masyarakat Sunda-Jawa sejak zaman Islam masuk ke Nusantara.

Corak Nadzhaman Tawassul yang hidup di Jawa Barat ini menunjukkan garis keterhubungan antara masyarakat Nusantara dengan Timur Tengah. Menunjukkan satu tarikan nafas spiritual yang melebur ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Nusantara. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa “monoteisme Urang Sunda” juga bersifat universal sehingga “mampu” bersentuhan secara spiritual dengan “monoteisme Timur Tengah” yang menjadikan Islam sebagai lokomotifnya.

Datangnya Islam ke Nusantara tidaklah menimbulkan persoalan spiritual yang signifikan. Karena masyarakat pribumi Nusantara juga memilliki spiritualisme yang lurus. Silang perbedaan hanya berada pada tataran istilah-istilah yang kemudian menjadi corak tersendiri dan membentuk istilah baru yang lebih mempribumi tanpa menghilangkan makna substansialnya dari segi aqidah Islam.

Nadzhaman Tawassul di bawah ini adalah kreasi anak-anak zaman yang dalam perjalanan spiritualnya menemukan guratan-guratan “Jalan menuju Tuhan” yang ditapaki dengan nafas pribuminya. Hal ini bisa dilihat dari salah satu bait yang dikumandangkan oleh para salik dengan suara keras dan tanpa keraguan;

زَمَانْ برْزَمَانْ فاَطِمَهْ كَاوِينْ ۞ أَمْبِلْ فَعَانْتِينْ دِيْ تَعَانْ رَسُولْ

جِبْرِيلْ تُرُونْ بَوَا مَسْ كَاوِينْ ۞ دِي تٓنْتُوْكَنْ اللّٰهْ رَبُّ الْعٰلمَـينْ

“Zaman berzaman Fathimah kawin* ambil penganten di tangan Rasul”

“Jibril turun bawa maskawin * ditentukan Allah Rabbul ‘aalamiin”.

Salah satu bait Nadzhaman tersebut merupakan inti penjelasan dari sebuah proses perjalanan Nur Muhammad yang menapaki para pewarisnya. Bahasa gamblangnya dapat dikatakan bahwa “Cahaya Kenabian” tak pernah pupus sepanjang zaman. Ia menjadi pelita, tetap hidup dan menerangi alam semesta yang minyaknya berasal dari nafas para waliNya.

Nadzaman Tawassul ini bermula diajarkan dan dipraktekkan oleh Habib Umar bin Ismail bin Yahya yang dikenal dengan panggilan Abah Umar. Beliau mengajarkan kepada murid-muridnya di Panguragan, Cirebon. Selanjutnya dikembangkan dan disusun ulang dengan penegasan Masyaikh dari Tarekat Syatthariyyah bagi murid-murid Pasulukan Loka Gandasasmita, di Garut.

Nadzaman Tawassul yang kami (Pasulukan Loka Gandasasmita) susun merupakan bentuk komitmen ta’adduban kami kepada para Mursyid, Masyaikh, dan Auliya Allah yang dengan nafas keikhlasannya sepanjang zaman tanah ini menjadi berkah dan bertuah. Rangkaian Masyaikh dari tarekat Syatthariyah di Nadzhaman ini lebih terlihat banyak dan lebih variatif, yang bukan hanya dari tanah Jawa, tapi juga ada yang berasal dari Aceh, bahkan Timur Tengah. Karena itu, pembacaan standar Nadzhaman Tawassul ini akan memakan waktu 2-3 jam.

Amaliyah tawassul melalui Kitab Nadzhaman ini kami hidupkan kembali hingga menjadi nafas bagi jalan kami menuju Allah SWT. Amaliyah ini adalah sebuah jalan yang kami percayai merupakan “jejak-jejak” para Wali, para Nabi dan para Rasul Kekasih Allah. Karena itu, kami tak pernah ragu untuk menjadikannya sebagai inkripsi, rajah atau do’a bagi perjalanan kami sebagai anak-anak zaman. Anak zaman yang berusaha berpegang teguh pada “pasak bumi” yang Allah SWT tentukan dan tetapkan pada setiap zaman.

مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ إِمَامٍ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa mati tanpa Imam, matinya adalah mati jahiliyah.” (Shahih Ibn Hibban; jilid 7 halaman 49).

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللّٰهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Allahumma innii as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalal ladzii yuballigunii hubbaka, Allahummaj’al hubbaka ahabba ilaiyya min nafsii wa ahlii wa minal maail baaridi

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta amalan yang menyampaikanku kepada kecintaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku serta air dingin”.

Berikut kami sajikan Kitab Nadzhaman Tawassul versi Pasulukan Loka Gandasasmita, Garut, Jawa Barat, dalam bentuk ebook berformat pdf. Silahkan didownload atau dibaca secara online.

Nadzhaman Tawassul Tulisan Arab:

inilah bentuk kecintaan kami kepada Allah, Nabi beserta sahabat dan keluarganya, melalui kecintaan kami kepada para Wali Allah dan para Mursyid. Bagi yang berminat silahkan untuk mendownload dan mencetaknya dalam link berikut ini:

Semoga bermanfaat…

 

 


Share posting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *