TERKADANG IBADAH MEMBUAT KITA MENJADI SOMBONG, ATAU KITA MERASA DIRI SANGAT DEKAT DENGAN ALLAH
Oleh : H Derajat
Pasulukan Loka Gandasasmita
karena banyaknya ibadah membuat kita kadang terlena dan merasa diri sangat sempurna dalam keilmuan juga merasa seperti manusia yang sudah memastikan Ahli Surga.
Sahabatku, wahai orang-orang yang mencari keridhoan Allah. Aku mulai risalah ini dengan sebuah hadist dari seorang yang mulia Rasulullah SAW :
وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.
Tsauban bercerita, “Jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca “Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah (redaksi) istighfar beliau?”. “Astaghfirullah, astaghfirullah” jawab al-Auza’i.
Begitulah contoh Rasulullah, dalam setiap akhir ibadahnya (sholat) selalu beristighfar menyatakan kerendahan dirinya sebagai makhluk di hadapan Khalik Yang Maha Kuasa apalagi diri kita yang masih jauh dari kesempurnaan, maka janganlah kita merasa karena amal ibadah kita itu bisa ditukar dengan surga atau ditukar dengan kewajiban Allah untuk mengabulkan apa yang kita mohonkan kepadaNya.
Ulama besar Syekh Ibnu ‘Athoillah As-Sakandari* (wafat Tahun 1309) dalam Kitab Al-Hikam menegaskan pentingnya bersandar kepada Allah.
مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ
“Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya *ar-Raja’* (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana.”
Ar-Raja’ adalah istilah khusus dalam terminologi agama, yang bermakna pengharapan kepada Allah Ta’ala. Ar-Raja lebih menyifati orang-orang yang mengharapkan kedekatan dengan Allah untuk taqarrub.
Dalam suatu ceramahnya Mursyid kami yang mulia *Abah Guru Sekumpul* menyatakan :
Akibat Berpegang Kepada Amal
Syaikh al-Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, berkata: “Sebagian tanda berpegang (manusia) atas amal, ialah kurang harapannya kepada Allah ketika terjadi kesalahan-kesalahan.”
Ada 3 tingkatan ummat manusia sebagai makhluk Allah, yaitu :
1. Al-‘Ibaad:* Mereka mengerjakan segala macam amal ibadah dan menjauhkan segala larangan Allah agar dijauhkan dari malapetaka dan masuk surga.
2. Al-Muridin:* Mereka mengerjakan segala macam amal ibadah dan menjauhkan segala larangan Allah agar bagaimana bisa sampai kepada Allah, agar terbuka segala sesuatu yang menutupi hati mereka dan dilimpahkan rahasia-rahasia halus.
3. Al-‘Arifin:* Hamba-hamba dalam tingkatan ini, meskipun mereka beramal ibadah begitu banyak, tapi sedikit pun mereka tidak melihat dan mengharap agar dijauhi malapetaka, masuk surga, bisa sampai kepada Allah serta dilimpahkan rahasia-rahasia halus, tidak terbayang dalam hati mereka bahwa mereka beramal, tetapi hati mereka selalu tertuju bahwa Allah yang berbuat segala sesuatu pada hakikatnya. Mereka tenggelam dalam lautan ridha qadar Ilahi dan mereka bergantung pada tali qadha’ yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Pada tingkatan Al-‘Ibaad dan Al-Muridin, ibadahnyalah yang menjadi sebab sampainya harapan-harapan yang mereka harapkan dan inginkan. Tetapi apabila ibadahnya berkurang atau melanggar perintah-perintah Allah, maka berkurang pula harapan dan keinginannya kepada Allah agar dijauhkan dari malapetaka, masuk surga serta dilimpahkan rahasia-rahasia halus. Ini akibat apabila kita berpegang kepada amal, tetapi tidak berpegang kepada Allah.
Tingkatan Al-‘Arifin adalah tingkatan yang paling mulia disisi Allah. Sebab apabila kita sampai pada tingkatan ini, kita akan fana dan kita akan tenggelam didalam qadar dan qadha’ Allah. Sama saja pada kita apakah kita mengerjakan taat, maka tidak terlihat oleh kita bahwa itu karena daya dan kekuatan kita.
_Laa haula wala quwwata illa billahi_ (Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan kurnia rahmatNya semata-mata).
Pada tingkatan Al-‘Arifin ini, keyakinan kita terhadap Allah begitu sempurna, dan harapan kita kepada Allah maksimal, maka segala apa yang terjadi, tidak akan mempengaruhi dasar pengharapan, keyakinan, dan tawakal kepada Allah. Jika kita jatuh dalam dosa, maka kita bertobat kepada Allah dengan meyakini kesempurnaan tobat kita.Tidak bertambah harapan kita kepada Allah apalagi karena kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan, dan tidak pula berkurang taqwa kita kepada Allah, disebabkan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.
Karena itu seorang muslim dituntut untuk tidak bergantung kepada amalnya. Hadis Nabi: _“Berlakulah kamu setepat dan sedekat mungkin (tidak berlebihan dan tidak kurang). Ketahuilah bahwa amal salah seorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke dalam surga. “Mereka bertanya, : “Engkaupun tidak, ya Rasulullah?” Baginda bersabda: *“Akupun tidak, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan rahmat.”*_ (Dirawayatkan oleh Enam Imam).
Dalam meninggalkan ketergantungan kepada Amal terdapat banyak hikmah yang bertautan dengan pemahaman tentang Allah dan yang berhubungan dengan pembersihan jiwa. Bersandar pada amal menyebabkan tertipu, ‘ujub, lancang dan tidak sopan terhadap Allah serta merasa dirinya mempunyai hak-hak disisi Allah, dan itu semua berbahaya..
Maka kalam hikmah ini menjelaskan kepada kita bahwa, apabila seseorang berpegang atau bergantung kepada amalnya, akan berkurang harapannya kepada Allah atas maksudya yaitu agar dijauhkan dari malapetaka, masuk surga serta dilimpahkan rahasia-rahasia halus, serta berkurang keyakinan dan penyandaran dirinya kepada Allah ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa. Sebagai hamba, hendaknya kita bersandar kepada Allah dalam beribadah, jangan bersandar kepada amal, agar Allah ridha terhadap segala amal ibadah yang kita kerjakan.
Akhirul kalam :
لا إله إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ .
_Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhoolimiin._
“…Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiyaa: 87)

